Select Menu

Peristiwa

Artikel

Budaya

Pendidikan

Makanan

Minuman

Kue

nonton film bareng di perpus tim


Dengan berkembangnya zaman, cita-cita dan karakter tidak bisa lagi hanya di dengungkan dengan dongengan menjelang  tidur. Karena generasi kita saat ini generasi gadget, dan secara tidak langsung kita sebagai orang dewasa yang telah mencemari anak-anak kita dengan teknologi yang dimana mereka semua masih belum siap. Dan ketidaksiapan ini, apabila terus berlanjut maka tidak menutup kemungkinan mereka hanya bermain dan bermain pada kehidupan ilusi, yaitu game dan dunia maya.

  Oleh sebab melihat fenomena ini, menonton film bisa dijadikan salah satu alternatif lain guna membentuk karakter dan keinginan anak akan cita-citanya. Adapun cara ini bisa dijadikan alternatif yang efektif karena semakin sering anak-anak melihat film-film motifasi atau kisah-kisah kepahlawanan, maka dengan demikian di dalam otak mereka akan tersimpan bagaimana sifat para pahlawan atau orang-orang yang menginspirasi.

   Jika anda ragu, saya sarankan melakukan riset kecil pada anak usia 2-6 yang sudah terbiasa melihat tontonan televisi atau film kartun, coba amati tingkah laku mereka, apakah menirukan tokoh yang mereka lihat? jika iya, ini sudah tanda bahwa mereka sudah termotifasi oleh tokoh yang sering mereka lihat. Lalu lakukan riset kecil lagi, tanyakan apa cita-cita mereka. Mungkin anda akan heran jika yang muncul atau mereka ucapkan adalah ingin seperti ultramen, upin dan ipin atau aktor kartun lainnya.

   Kejadian diatas, tentunya menjadi pelajaran penting bagi kita, betapa besar pengaruh film kepada kehidupan anak-anak kita. Oleh sebab itulah menonton film motifasi bisa menjadi alternatif yang sangat baik untuk sibuah hati anda. Adapun pengarahan atau film-film yang ditampilkan adalah film-film yang sangat layak ditonton dan sesuai dengan keinginan anda.

    Hemat saran saya jika anda memiliki televisi dirumah, alangkah lebih baiknya lagi anda mulai menyaring mana tontonan yang layak ditonton oleh anak-anak kita. Jadi peran orang tua diharapkan sangat berperan aktif dalam pembentukan karakter dirumahnya.

MPLS DI SMAN SIDOARJO

Bertepatan dengan masuknya siswa baru, sekolah-sekolah yang ada di wilayah Sidoarjo dalam MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) atau yang dulu lebih dikenal dengan MOS (Masa Orientasi Sekolah) sebaiknya diisi dengan kegiatan, gerakan membaca buku.

Pasalnya, kondisi masyarakat sekarang ini sudah sangat minim sekali berminat untuk membaca buku, apalagi ‘serangan’ IT atau game-game di HP sudah menjalar ke seluruh lapisan masyarakat, orang tua, remaja hingga anak-anak sekolah. Itulah harapan Muhammad Fauzi selaku penggerak Literasi Perpustakaan Kab Sidoarjo saat menjadi narasumber MPLS SMAN 3 Sidoarjo, Selasa (19/7) kemarin.


Pendiri Perpustakaan Taman Ilmu ini sangat prihatin dengan kondisi masyarakat yang sulit untuk minat membaca. Padahal berbagai instansi pemerintah maupun swasta sudah sering melakukan gerakan, melakukan sosialiasi betapa pentingnya membaca. ”Bahkan saya sendiri terus keliling menjajakan jamu sambil membawa buku, agar bisa dibaca oleh para pelanggan jamu walaupun hanya 10 menit hingga 20 menit saja,” katanya.

Sementara itu, pengelola Perpustakaan Sekolah SMAN 3 Sidoarjo, Yanti Kustanti mengaku kondisi pembaca buku di sekolah memang sangat minim, jika dibandingkan dengan jumlah seluruh siswa yang mencapai sekitar 1.000 siswa lebih. Tetapi jumlah peminat baca buku di perpustakaan sekolah per hari hanya sekitar 150 anak.

Padahal, sekolah sudah menyediakan seluruh fasilitas kebutuhan-kebutuhannya, mulai dari jumlah buku koleksi yang sudah mencapai sekitar 20 ribu exemplar. Termasuk fasilatias Wi Fi serta memenuhi kebutuhan anak-anak. ”Jadi, jika ada anak-anak meminta buku yang dibutuhkan, kami langsung mengajukan anggaran untuk dibelikan. Pihak sekolahan juga sangat mendukung sekali,” jelas Yanti Kustanti.
Maka dalam kesempatan MPLS kali ini kami menggandeng Muhammad Fauzi sebagai penggerak literasi di Sidoarjo, untuk memberi semangan anak-anak agar senang ke perpustakaan untuk membaca buku. ”Kegiatan ini diharapkan anak-anak lebih senang membaca buku. Eman sekali, sekolah mendukung kebutuhan perpustkaan, tetapi anak-anaknya malas membaca buku,” katanya.
Selain menghadirkan penggerak literasi perpustkaan, di SMAN 3 juga ada tim penggeraknya sendiri, yakni ‘Duta Baca SMAN 3 Sidoarjo’. Mereka adalah Alifia Rachmawati Kelas XII Bahasa, Putri Septilia Kelas XII IPA 3 serta Ray Ayuning Galuh Salsabilah Kelas XI Bahasa, yang ikut memberikan semangat kepada 400 peserta MPLS agar murid-murid baru bergerak, sering hadir di perpustakaan untuk senang membaca buku.
Menurutnya, membaca buku sangat banyak sekali keuntungannya, bisa menambah ilmu tentang pendidikan sekolah maupun ilmu pengetahun umum. ”Selain itu juga untuk menambah teman, tentunya teman-teman untuk belajar bersama. Saya sendiri juga tidak menyangka kalau terpilih jadi Duta Baca SMAN 3 Sidoarjo,” ujar putri Septilia usai memotivasi siswa baru.
sumber: birawa

STASIUN BACA TULIS SIDOARJO


KOMUNITAS stasiun baca tulis atau Stabatu yang berlokasi di Desa SukorejoBuduran, Sidoarjo ini bisa menjadi alternatif baru bagi pegiat literasi yang berlokasi di kota udang dan sekitarnya untuk berkumpul mengembangkan budaya literasi.

Pejuang literasi di jalan sunyi, menjadi motto utama komunitas Stabatu yang kelahirannya dibidani Fauzi Baim. Motto tersebut menjadi pilihan karena kegiatan perpustakaan keliling, menulis, membaca dan membuat blog ini bersifat relawan bukan gerakan profit.
Lewat agenda utama Stabatu itu diharapkan bisa meningkatkan kemampuan anggota yang tergabung, karena setiap anggota memiliki kapasitas dan kemampuan berbeda-beda. Selain, memberikan kemanfaatan untuk masyarakat luas, doar Antoni Prasetyo, anggota komunitas dalam pertemuan awal Juni 2016 lalu di sekretariat Stabatu.
Saat ini, Stabatu fokus pada peningkatan budaya baca karena budaya baca harus lebih ditingkatkan lagi guna mencapai masyarakat yang cerdas dan madani.
Nantinya, Stabatu akan memberikan pelatihan menulis di sekolah-sekolah di Sidoarjo, janji Dien Ilmi, penulis yang tergabung dalam Stabatu.

Sementara pemerhati budaya baca, Antoni Prasetyo, menambahkan, anggota Stabatu harus fokus dan menemukan formula unik serta efektif sesuai dengan karakter masyarakat dalam peningkatan budaya baca. Harapannya penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan bisa secepatnya didapatkan masyarakat.

NGOBROL BARENG MENTERI PENDIDIKAN

29 Mei 2016, alhamdulilah bisa terfasilitasi untuk bisa ngobrol dengan menteri pendidikan. Walau hanya sekitar 10 menit, namun sangat berkesan dan berarti bagi saya.















TERIMAKASIH PAK.

FLP SIDOARJO PERINGATI HARI BUKU

 Alhamdulilah,kemarin 15-05-2016 bisa bertatap muka langsung dengan peserta pada seminar yang diadakan oleh FLP SIDOARJO . Seminar yang digelar dikantor pemkab Sidoarjo ini, bagi saya merupakan salah satu acara yang sangat keren. Peserta yang banyak dan cukup konsen mendengarkan serta memperhatikan para pemateri.

    Acara yang kebetulan saya sendiri dan rafif ahnaf sebagai pengisi acara disesi kedua. Untuk saya sebagai pengisi acara sesi pertama, tentunya selalu berhubungan dengan buku, sedangkan rafif ahnaf yang pada sesi ke dua membagikan materi seputaran trik kepenulisan, termasuk bagaimana cara mengatasi kebuntuan ketika menulis.

   Digelarnya acara ini, dalam rangka memperingati hari buku yang jatuh pada tanggal 17 mei . Sekaligus menjaring angota baru FLP karena para peserta diharapkan bisa bergabung dan menjadi anggota, sehingga FLP bisa terus memiliki generasi.


TERIMAKASIH UNTUK FLP SIDOARJO.

















UNTUK MELIHAT VIDEONYA SILAHKAN KLIK DI SINI

MEMPERINGATI HARI BUKU SEDUNIA

Keluarga di Sidoarjo Ini Punya Cara Unik Peringati Hari Buku Sedunia SURYA.co.id|SIDOARJO - Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan tanggal 23 April sebagai World Book Day and Copyright Day atau Hari Buku Sedunia dan Hari Hak Cipta Sedunia. Peringatan tersebut memiliki arti penting bagi sebagian orang, termasuk di antarnya sebuah keluarga di Sidoarjo, Jawa Timur ini.

Muhammad Fauzi (34) mengajak istrinya Imroatul Mufidah (28) dan dua putranya Faris Nuruddin (10) dan Muhammad Noufal Ibrahim atsani melakukan aksi nyata dengan sosialisasi Hari buku Sedunia dengan cara membagikan sticker yang totalnya sekitar 400 lembar,dan tulisan hari Buku Sedunia yang di tempel pada sterofoom dan dipegangi dua putranya dibawah roda tiga Perpustakaan keliling miliknya.

Sosialisasi yang digelar dilampu merah alun-alun Sidoarjo ini menarik perhatian para pengguna jalan, dan tampak dari mereka banyak yang penasaran atas kegiatan satu keluarga ini.

Tidak cukup sampai disitu, baju fauzi juga tampak ditempeli beberapa aksara atau abjad dan angka yang dimana ini merupakan simbol sebagai buku saat ini yang dimana buku-buku tersebut jarang dibaca.

Begitupun dengan kedua putranya yang memakai topi khas petani bertuliskan sak iki jamane moco/sekarang zamannya membaca, dibawah topinya juga tampak beberapa aksara yang bergantungan.


Aksi ini terbilang sangat unik dan mencuri perhatian banyak orang, karena hanya dilakukan oleh satu keluarga. Adapun Fauzi sebagai pengembang budaya baca dan pemilik selogan sak iki jamane moco berharap dengan adanya aksi ini, budaya gemar membaca akan bisa lebih meningkat lagi tukasnya.

Fauzi juga menuturkan harapannya kepada pemerintah kaupaten Sidoarjo untuk menaruh atau mendirikan titik-titik spot baca di pusat-pusat aktifitas masyarakat. karena hal ini dirasa fauzi akan sangat bisa membantu guna meningkatkan masyarakat terhadap budaya gemar membaca.

Untuk melihat aksi satu keluarga ini, anda bisa langsung  melihatnya pada vidio di bawah ini.


#sak_iki_jamane_moco LITERASI DI SURYA

Reportase : Aulia Nur Sahlina
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya
APA yang ada di pikiran ketika mendengar kata literasi? Banyak yang beranggapan literasi itu hal yang membosankan dan tak perlu diperhatikan terlalu dalam.
Modernisasi yang menawarkan segalanya serba mudah dan instan, menyisipkan dampak yang membawa masyarakat menuju pemikiran serba instan sekaligus menggiring pada keengganan untuk membaca. Padahal, kita tidak bisa menulis tanpa membaca, dan tidak bisa membaca tanpa adanya tulisan.
Idealnya, dengan teknologi bisa dimanfaatkan maksimal untuk semakin menggiatkan aktivitas literasi, mengingatkan betapa banyaknya manfaatnya berliterasi.

Inilah salah satu alasan yang melatari Harian Surya mengadakan sharing bersama jurnalisme warga (Citizen Reporter), Sabtu, 19 Maret 2016 di Kantor Harian Surya  Surabaya, bersama mahasiswa dan anggota Taman Ilmu Masyarakat (TIM) Sidoarjo.
Sharing kali ini yang dipandu Adi Sasono, manajer liputan Harian Surya dan Tri Hatma, editor rubrik Citizen Reporter Harian Surya, menitikberatkan pada apa yang harus dilakukan agar menjadi penulis yang baik dan menulis yang baik agar mudah dipahami pembaca.
Antusiasme ditunjukkan peserta dengan mengajukan pertanyaan seputar EYD, netralitas jurnalis, editorial, membuat tulisan yang baik dan menarik, jika ide buntu, dan masih banyak lagi. Salah satu peserta, Firosa Faizati, menyarankan agar acara seperti ini lebih sering diadakan dengan agenda yang lebih intensif lagi. Misalnya, peserta diajak membuat tulisan dengan tema-tema tertentu.
Testimoni manfaat literasi disampaikan Evie Suryani, penulis, pegiat dan pengajar literasi ini juga berbagi tip menulis dan menarik manfaat dari menulis. Pun Fauzi Baim, penulis otodidak yang ulet dan setia berliterasi.
Pengakuan lain dipaparkan Rahadian Bagus Priyambodo, reporter Harian Surya yang bisa terbang ke Frankurt Book Fair 2015 gara-gara berliterasi.
“Karena berliterasi itu tak mengenal kasta, siapa saja bisa menulis apa saja,” yakin Evie Suryani, yang ikut serius menyemangati peserta untuk tidak pernah menyerah menulis.
Usai rehat salat dan makan, panitia memberi kesempatan peserta untuk mengambil tiga buku per orang. Tak tanggung-tanggung, doorprize berupa tiket nonton gratis di bioskop Tunjungan 21 Surabaya dan menginap di Hotel Sahid, Surabaya.
Wow, sungguh sabtu seru belajar literasi bersama Harian Surya...
Sumber harian surya.

Galeri